DARI SANTRI TIDAK PUNYA MENJADI GURU UMMAT



Kisah Perjuangan Hidup KH. Abad Badrudin: Santri dalam Kesederhanaan

Perjalanan menuntut ilmu bukanlah jalan yang mudah, terlebih bagi mereka yang berasal dari keluarga serba kekurangan. Demikianlah kisah hidup KH. Abad Badrudin, ulama besar dari Kampung Ciburang, yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan ilmu dan menjadi penerang bagi umat.

Menuntut Ilmu dalam Keterbatasan

Ketika santri-santri lain datang ke pesantren dengan bekal yang cukup, KH. Abad Badrudin kecil datang hanya dengan dua helai sarung dan dua potong baju. Tak jarang satu sarung beliau gunakan untuk shalat, tidur, sekaligus sebagai handuk, karena tak punya perlengkapan lain. Kesederhanaan itu bukan pilihan, melainkan kenyataan hidup yang harus diterima dengan sabar dan ikhlas.

Saat mondok di Pesantren Tanjung, Cijati, beliau tidak hanya harus menahan rindu pada keluarga, tetapi juga menahan lapar yang nyaris menjadi teman sehari-hari. Tidak ada uang saku, tidak ada kiriman bekal. Bahkan makanan pun sering tak cukup, sementara santri lain hidup lebih layak.

Akibat kekurangan yang begitu nyata, beliau sering dicemooh oleh sebagian santri lain. Namun hinaan dan sindiran tidak menyurutkan semangatnya. Justru dari luka-luka batin itu tumbuh tekad kuat untuk terus belajar dan membuktikan bahwa yang dilihat hina oleh manusia, bisa menjadi mulia di sisi Allah karena kesabaran dan perjuangannya.

Menjadi Kuli untuk Bisa Tetap Mondok

Karena orang tuanya — Aki Dodom dan Umi Samanah — juga hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas, KH. Abad Badrudin harus mencari cara agar tetap bisa bertahan di pesantren. Dengan ikhlas dan tanpa malu, beliau ikut menjadi buruh tani, mencangkul di sawah-sawah milik warga sekitar pesantren.

Di pagi hari beliau mondok, mengaji dan menghafal. Sore harinya turun ke sawah, memegang cangkul demi sesuap nasi dan agar bisa tetap tinggal di pondok. Badan lelah, pakaian basah, tapi hati beliau selalu penuh keyakinan: bahwa ilmu akan menjadi jalan keberkahan, asalkan dicari dengan kesungguhan dan kerendahan hati.

Pelajaran untuk Santri Zaman Sekarang

Perjalanan KH. Abad Badrudin ini jauh dari kenyamanan yang sering dirasakan oleh santri masa kini. Tidak ada kasur empuk, tidak ada makanan siap saji, tidak ada fasilitas modern. Namun dari kemiskinan lahir, lahir kekayaan batin yang menjadikannya kuat, tangguh, dan berjiwa besar.

Kesederhanaan bukan menjadi alasan untuk menyerah, justru menjadi bahan bakar semangat. Dan rasa lapar bukan menjadi penghalang untuk belajar, tapi menjadi motivasi untuk lebih dekat dengan Allah dan ilmu-Nya.

Penutup: Dari Santri Miskin Menjadi Guru Umat

KH. Abad Badrudin tidak tumbuh dalam kemewahan. Namun dari tanah kampung yang sederhana, dari perjuangan kuli di sawah, dari kain sarung yang serba guna, lahirlah seorang ulama besar yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda Ciburang. Pesantren yang hingga hari ini menjadi tempat bernaung bagi santri-santri yang ingin belajar dengan ikhlas dan meneladani jejak sang pendiri.

Kisah hidup beliau adalah pelajaran hidup. Bahwa keberkahan ilmu tidak tergantung pada fasilitas, tetapi pada niat, kesungguhan, dan pengorbanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini