SENJA TERAKHIR PASARAN
DI PESANTREN NURUL HUDA CIBURANG
Ada
yang berbeda dengan langit Ciburang sore ini. Warna jingganya seolah membawa
pesan melankolis, mengiringi langkah-langkah santri yang biasanya bergegas
menuju masjid. Tak terasa, 20 hari perjalanan spiritual dalam program pasaran atau sering di sebut Pesantren
Kilat Ramadan di Pesantren Nurul Huda telah mencapai
puncaknya.
Dua
puluh hari mungkin terdengar singkat bagi dunia luar, namun bagi kami para santri yang menjalaninya,
setiap detiknya adalah gema dari doa, tawa, dan perjuangan melawan kantuk di
tengah lantunan kitab suci.
Jejak
yang Tertinggal di Nurul Huda
Masih
teringat jelas hari pertama kami menginjakkan kaki di sini. Wajah-wajah
canggung yang belum saling kenal, kini berubah menjadi saudara seperjuangan.
Dari mulai antrean mandi yang legendaris, tadarus bersama hingga suara serak
saat mengaji, hingga momen "war" takjil dan buka bersama tiap hari yang selalu seru.
Di
bawah bimbingan para Kyai dan Ustadz di
Nurul Huda, kami tidak hanya belajar tentang kitab kuning, tapi tentang adab,
kesabaran, dan kemandirian.NURUL
HUDA Ciburang bukan sekadar tempat singgah, ia telah menjadi
rumah kedua yang menanamkan benih-benih kebaikan di hati kami.
Buka
Bersama: Jembatan Rindu Antar Generasi
Puncak
dari perpisahan/TAFARUKAN ini
ditandai dengan acara Buka Puasa Bersama LINTAS GENERASI. Suasana kali ini
terasa begitu istimewa karena kehadiran para alumni Pesantren Nurul Huda.
Melihat kakak-kakak alumni kembali pulang, kami sadar bahwa ikatan di pesantren
ini tidak akan putus hanya karena sebuah ijazah atau sertifikat kelulusan.
Di
atas hamparan karpet yang sama, kami berbagi tawa dan cerita. Para alumni yang tergabung dalam bingkai HIMPUNAN ALUMNI SANTRI NURUL
HUDA (HIASAN) membawa kisah sukses mereka di luar sana, memberikan
suntikan semangat bagi kami yang baru saja akan "terjun kembali" ke
dunia nyata. Hidangan buka puasa sore itu terasa jauh lebih nikmat, bukan
karena menunya, tapi karena kehangatan ukhuwah yang menyelimuti setiap
suapan.
"PESANTREN
KILAT MUNGKIN BERAKHIR HARI INI, TAPI SEMANGAT RAMADAN DI NURUL HUDA HARUS
TETAP MENYALA SEPANJANG TAHUN."
Sebuah
Titik untuk Garis yang Baru
Perpisahan
memang selalu membawa sesak, namun seperti yang sering dipesankan selama di
sini: perpisahan hanyalah jeda untuk pertemuan yang lebih bermakna.
Kami
pulang tidak dengan tangan hampa. Kami membawa bekal disiplin, hafalan yang
bertambah, dan yang terpenting, sebuah keluarga baru.
Terima
kasih Pesantren Nurul Huda Ciburang atas 20 hari yang penuh warna. Terima kasih
untuk para alumni yang telah hadir memberi inspirasi.
Sampai
jumpa di Ramadan berikutnya. Tetaplah istiqomah, wahai pejuang subuh!
2026

Komentar
Posting Komentar