PENDIRI PESANTREN NURUL HUDA CIBURANG
(BAPA CIBURANG)
Ulama Kampung yang Menerangi Umat
Di sebuah kampung kecil nan asri di pelosok Cianjur Selatan, tepatnya di Kampung Ciburang, Desa Padaasih, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur, lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan sederhana, Aki Dodom dan Umi Samanah, pada tahun 1955. Anak itu kelak dikenal luas sebagai seorang ulama kharismatik dan pejuang pendidikan Islam yang tulus dan rendah hati — KH. Abad Badrudin, atau yang lebih akrab disapa masyarakat dengan panggilan Bapa Ciburang.
Masa Kecil dan Pendidikan
Bapa Ciburang tumbuh dalam suasana desa yang religius, di tengah masyarakat yang masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan ajaran Islam. Sejak usia dini, beliau telah menunjukkan ketekunan dan keseriusan dalam menuntut ilmu. Pendidikan agama menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya.
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat beliau untuk belajar tidak pernah surut. Dalam perjalanan hidupnya, Bapa Ciburang menimba ilmu dari berbagai pesantren dan para ulama kampung yang menjadi panutan di zamannya. Jiwa kepemimpinan dan keteladanan mulai tampak dari usia muda, seiring dengan pengabdiannya kepada masyarakat dan dunia keislaman.
Mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda Ciburang
Dengan tekad yang kuat dan niat yang tulus karena Allah, KH. Abad Badrudin akhirnya merintis berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda Ciburang. Di tanah kelahirannya sendiri, beliau membangun pesantren ini dari nol — bermula dari beberapa santri dan bangunan sederhana.
Namun, semangat beliau tak pernah kendur. Dengan segala keterbatasan, beliau terus mengajar, membimbing, dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada para santri. Nurul Huda kemudian tumbuh menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan akhlak, kemandirian, dan semangat perjuangan.
Pesantren Nurul Huda Ciburang menjadi cahaya (nur) di tengah keterbatasan desa. Banyak generasi muda yang terselamatkan dari kebodohan dan pergaulan bebas karena tempaan pendidikan dan pembinaan dari Bapa Ciburang.
Kehidupan Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya, Bapa Ciburang menikah dengan seorang wanita shalihah bernama Umi Hj. Dasinah, atau dikenal juga dengan sebutan Hj. Ai Suaidah. Sosok istri yang setia mendampingi beliau dalam suka dan duka, serta turut berperan dalam membina para santri di lingkungan pesantren.
Dari rumah tangga yang sederhana namun penuh berkah inilah, keduanya menjadi contoh nyata pasangan yang saling mendukung dalam dakwah dan perjuangan Islam. Kehangatan keluarga mereka juga terasa dalam lingkungan pesantren, yang dikenal dengan suasana kekeluargaan dan kasih sayang.
Pengaruh dan Warisan
KH. Abad Badrudin bukanlah seorang ulama yang mencari ketenaran atau pujian. Beliau adalah sosok yang hidup dalam kesederhanaan, namun memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat sekitar. Sikapnya yang lembut, tawadhu, dan penuh hikmah membuat beliau dihormati bukan hanya oleh para santri dan alumni, tetapi juga oleh para tokoh dan masyarakat umum.
Kini, Pondok Pesantren Nurul Huda Ciburang telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai daerah, membawa nilai-nilai yang diajarkan Bapa Ciburang: keikhlasan, keilmuan, akhlakul karimah, dan tanggung jawab sosial.
Sejarah Perjalanan Menuntut Ilmu KH. Abad Badrudin (Bapa Ciburang)
Perjalanan seorang ulama besar selalu dimulai dari ketekunan belajar dan keikhlasan dalam mencari ilmu. Hal itulah yang tercermin dalam diri KH. Abad Badrudin, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bapa Ciburang. Sejak usia belia, beliau telah mengabdikan hidupnya untuk menuntut ilmu syar’i dari berbagai pesantren dan guru-guru yang mumpuni di bidangnya. Berikut adalah tahapan-tahapan penting dalam perjalanan keilmuannya:
1. Menimba Ilmu di Kampung Sendiri bersama KH. Nahrowi
Langkah awal dalam perjalanan ilmiah KH. Abad Badrudin dimulai di kampung halamannya sendiri, Kampung Ciburang, Desa Padaasih, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur. Sejak kecil, beliau telah dibimbing langsung oleh KH. Nahrowi, seorang ulama setempat yang dikenal mendalam ilmunya dan bijak dalam mendidik.
Di bawah bimbingan KH. Nahrowi, Bapa Ciburang mempelajari:
-
Ilmu membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar,
-
Dasar-dasar ilmu agama seperti tauhid, fikih, akhlak,
-
Serta pelajaran kitab-kitab klasik seperti nahwu, shorof, dan ilmu alat lainnya.
Pendidikan dasar ini menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter beliau sebagai seorang santri yang haus ilmu dan teguh dalam keimanan.
2. Pesantren Al-Fadhilah, Kampung Tanjung – Cijati
Setelah menamatkan pendidikan awal di kampung, KH. Abad Badrudin melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pondok Pesantren Al-Fadhilah, yang terletak di Kampung Tanjung, Kecamatan Cijati, masih dalam wilayah Kabupaten Cianjur.
Di pesantren ini, beliau berguru kepada dua tokoh penting:
-
AA KH. Murtado, putra dari ulama besar Ba’a Tanjung,
-
Mama Hamdan, seorang alim sepuh yang dihormati masyarakat sekitar.
Di bawah bimbingan dua ulama ini, beliau memperdalam pelajaran fikih, adab, dan ilmu alat lainnya dalam suasana pesantren yang disiplin dan penuh keberkahan.
3. Pondok Pesantren Salafiyah Wadil Ulum – Sukalillah, Sukabumi
Perjalanan menuntut ilmu kemudian membawanya lebih jauh ke luar daerah, tepatnya ke Pondok Pesantren Salafiyah Wadil Ulum yang berlokasi di Kampung Sukalillah, Desa Padasenang, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi.
Pesantren ini dikenal sebagai pesantren salaf yang menekankan pada pendalaman kitab-kitab kuning dan pemurnian akidah serta amaliah berdasarkan Ahlussunnah wal Jama’ah. Di sini, Bapa Ciburang mendapatkan penguatan ilmu secara mendalam, terutama dalam hal:
-
Tafsir klasik,
-
Fikih dan ushul fikih,
-
Ilmu alat seperti balaghah dan mantiq,
-
Serta adab santri yang sangat ditekankan oleh para kiai.
4. Pesantren Annidzom, Panjalu – Sukabumi
Setelah dari Sukalillah, beliau melanjutkan pendidikan ke pesantren yang lebih besar dan terkenal, yaitu Pondok Pesantren Annidzom di Panjalu, Sukabumi, yang diasuh oleh Abuya KH. Abdullah Mukhtar — seorang ulama besar yang disegani dalam bidang ilmu fikih dan tafsir.
Selama nyantri di Annidzom, Bapa Ciburang mempelajari berbagai disiplin ilmu secara mendalam:
-
Ilmu Fikih dan Ushul Fikih,
-
Tafsir Al-Qur’an,
-
Nahwu, shorof, dan balaghah,
-
Tauhid dan tasawuf dalam kerangka Ahlussunnah wal Jama’ah.
Abuya KH. Abdullah Mukhtar dikenal sebagai guru yang tegas namun penuh kasih sayang, dan pengaruhnya sangat besar dalam membentuk kedalaman ilmu dan karakter KH. Abad Badrudin.
5. Mondok di Pesantren Cilaku Babakan – Cianjur
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sukabumi, Bapa Ciburang kembali ke Cianjur dan memperdalam ilmunya di Pondok Pesantren Cilaku Babakan, salah satu pesantren salaf yang memiliki reputasi kuat dalam kajian kitab kuning dan tradisi keulamaan yang kental.
Di Cilaku Babakan, beliau menguatkan kembali pelajaran yang telah diperolehnya sebelumnya, sekaligus mengasah mental dan spiritualnya untuk menjadi seorang pembina umat.
Penutup: Ilmu sebagai Jalan Pengabdian
Perjalanan panjang KH. Abad Badrudin dari satu pesantren ke pesantren lainnya bukan sekadar menuntut ilmu untuk pribadi, tetapi sebagai bekal untuk mengabdi kepada umat. Sepulangnya dari mondok, beliau mendedikasikan hidupnya untuk mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda Ciburang — lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dari cita-cita luhur untuk membimbing generasi Islam yang berilmu, berakhlak, dan siap berjuang untuk agama dan masyarakat.

Komentar
Posting Komentar