Sejarah Berdirinya HIASAN (HIMPUNAN ALUMNI SANTRI NURUL HUDA)

 

KH FAHRUL ROZI (KIRI) KM HUSNI AM (KANAN)


Sejarah Berdirinya HIASAN

Himpunan Alumni Santri Nurul Huda Ciburang

Dari sebuah lembah yang tenang di Desa Padaasih, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur, berdiri sebuah pesantren yang sejak lama menjadi mercusuar ilmu dan cahaya keikhlasan — Pondok Pesantren Nurul Huda Ciburang.
Didirikan oleh KH. Abad Badrudin bersama sang istri tercinta Hj. Umi ai suaidah/umi dasinah, pesantren ini tumbuh menjadi tempat berlabuh bagi ratusan santri dari berbagai daerah. Mereka datang dengan niat menuntut ilmu dan pulang membawa bekal iman, ilmu, dan akhlak yang menjadi suluh dalam kehidupan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, para santri lulusan Nurul Huda Ciburang tersebar luas ke berbagai penjuru Nusantara — mulai dari Kabupaten Cianjur, Banten, Sukabumi, Lampung hingga Riau. Mereka tumbuh menjadi tokoh masyarakat, pendidik, dai, dan penggerak dakwah di daerah masing-masing. Namun, di balik kesibukan dan jarak yang memisahkan, selalu ada satu kerinduan yang sama: kerinduan akan pesantren, para guru, dan ukhuwah sesama santri.

Dari kerinduan inilah, lahir sebuah gagasan luhur untuk menyatukan kembali para alumni di bawah satu wadah yang kokoh dan terorganisir.
Gagasan itu datang dari K.M. Husni A.M., putra tertua pendiri pesantren, yang memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau melihat bahwa alumni adalah aset berharga yang perlu dihimpun, diarahkan, dan diberdayakan agar nilai-nilai perjuangan dan pendidikan pesantren tetap hidup di tengah masyarakat.

Maka pada tahun 2015, bertepatan dengan momentum silaturahmi besar para alumni, ide tersebut diwujudkan menjadi kenyataan.
Melalui musyawarah bersama yang dihadiri oleh perwakilan dari berbagai daerah, terbentuklah sebuah organisasi resmi yang dinamakan:

HIASAN – Himpunan Alumni Santri Nurul Huda.

Nama “HIASAN” mengandung makna mendalam. Ia bukan sekadar singkatan, melainkan simbol bahwa para alumni adalah hiasan umat dan bangsa — yang memperindah kehidupan dengan akhlak, ilmu, dan pengabdian. Setiap alumni diibaratkan sebagai mutiara yang menghiasi perjalanan dakwah Nurul Huda di berbagai penjuru negeri.

Dalam hasil musyawarah tersebut, disepakati pula susunan kepengurusan awal. Para alumni secara mufakat menunjuk KH. Fahrul Rozie, yang akrab dikenal sebagai Ki Budah Laut dari Agrabinta, Cianjur Selatan, untuk menjadi Ketua Umum pertama HIASAN. Di bawah kepemimpinan beliau, HIASAN mulai menata langkah-langkah awal — memperkuat jaringan silaturahmi, mendata alumni lintas angkatan, serta membangun sistem komunikasi yang menjembatani pesantren dengan para alumninya.

HIASAN kemudian berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah nostalgia, tetapi juga sebagai motor penggerak dakwah, sosial, dan pendidikan. Kegiatan-kegiatan seperti pengajian , serta program pendidikan dan pelatihan santri mulai dijalankan secara berkelanjutan di berbagai daerah.

Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan, HIASAN menjelma menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan pesantren. Ia menjadi tempat berkumpulnya cinta dan rindu santri kepada guru-gurunya, tempat lahirnya gagasan besar untuk membangun umat, serta wadah untuk meneruskan cita-cita luhur KH. Abad Badrudin (bapa ciburang) — menjadikan ilmu agama sebagai cahaya kehidupan.

Kini, setelah hampir satu dekade sejak berdirinya pada tahun 2015, HIASAN terus tumbuh dan berbenah. Para alumninya semakin solid, tersebar di berbagai profesi, dan tetap menjunjung tinggi satu identitas yang sama: santri Nurul Huda Ciburang.

HIASAN bukan sekadar organisasi,
tapi ikatan batin, ruh perjuangan, dan cermin kebersamaan yang akan terus mengalir lintas generasi — dari santri, untuk santri, demi kemaslahatan umat dan kejayaan pesantren tercinta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI SANTRI TIDAK PUNYA MENJADI GURU UMMAT