PAPAJAR HIASAN (TARHIB ROMADHON)
PAPAJAR HIASAN 2026
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti acara Silaturahmi Himpunan Alumni Santri Nurul Huda (HIASAN).
Acara ini menjadi momentum penting bagi para alumni dari berbagai lintas
generasi untuk kembali menyatukan visi dan memperkuat ikatan emosional dengan
almamater.
Sambutan
Ketua Panitia: Dari Keinginan Bersama Menuju Keberkahan
Ketua Panitia, Ust. Ali Yusuf, dalam sambutannya
menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini. Beliau menekankan
tiga poin utama bagi seluruh hadirin:
- Manfaat Silaturahmi: Beliau memaparkan bahwa silaturahmi bukan sekadar
berkumpul, melainkan pembuka pintu rezeki dan pemanjang usia dalam
ketaatan. Dengan bertemu, sekat-sekat jarak dan waktu selama ini kembali
luruh dalam ukhuwah islamiyah.
- Inisiasi Sahabat Alumni: Menariknya, acara ini lahir dari aspirasi dan
permintaan kuat para sahabat alumni yang merindukan momen kebersamaan. Hal
ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sesama MUTAKHORIJIN Nurul Huda masih
sangat kental.
- Saling Dukung Antar Alumni: Ust. Ali mengajak seluruh alumni untuk saling
bahu-membahu dalam berbagai aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, maupun
pendidikan. "Kekuatan kita ada pada kebersamaan," tegasnya.
Pesan
Mendalam Alumni Senior
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pemateri yang
disampaikan oleh dua tokoh alumni senior, yaitu Aa Rayi dan Aa Raka.
1. Aa Rayi:
Nurul Huda sebagai
'Payung' Kehidupan Dalam tausiyahnya, Aa Rayi menekankan
bahwa Pesantren Nurul Huda tidak pernah berhenti menyediakan kebutuhan
spiritual dan bimbingan bagi para santrinya. Menariknya, beliau mengutip lirik
lagu populer "Sedia Payung Sebelum Hujan", namun dengan
improvisasi yang menyentuh:
"Jika kata 'Aku' dalam lirik tersebut diganti
dengan 'Nurul Huda', maka maknanya menjadi sangat dalam. Nurul Huda adalah
payung yang selalu siap sedia melindungi kita dari terik fitnah dan hujan ujian
zaman, bahkan jauh sebelum masalah itu datang menghampiri kita."
2. Aa Raka:
Etika, Kesetiaan, dan Masa
Depan Aa Raka memberikan pesan filosofis yang cukup tajam
mengenai loyalitas alumni. Beliau mengingatkan agar alumni tidak menjadi
seperti "orang buta yang membuang tongkatnya segera setelah ia bisa
melihat".
- Beliau menekankan bahwa Nurul Huda adalah
"tongkat" yang menuntun santri saat masih dalam kegelapan ilmu.
Sangat tidak elok jika setelah sukses (bisa melihat), alumni justru
melupakan pesantren yang dulu ia cintai bahkan dalam kesehariannya.
- Beliau mengutip pepatah, "Sanajan geus bisa lumpat, ulah
poho kanu ngajarkeun leumpang" (Meskipun sudah bisa berlari,
jangan lupa pada yang mengajarkan berjalan). Pesan ini bermakna agar
setinggi apapun jabatan, guru dan pesantren tetap harus dihormati.
- Inovasi Pendidikan: Beliau juga menginformasikan kehadiran SMP
Islam Nurul Huda Al-Wafa. Sekolah formal ini hadir sebagai jawaban
bagi alumni yang ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan sekolah tanpa
meninggalkan tradisi mondok (pesantren).
Senang sekali bisa berkumpul atas inisiasi para sahabat alumni. Dari sini kita diingatkan lagi untuk saling dukung dan menguatkan. Kabar baiknya, buat kawan-kawan alumni yang ingin anaknya dapet paket lengkap (sekolah formal + mondok), sekarang sudah ada SMP Islam Nurul Huda Al-Wafa. Solusi cerdas untuk generasi masa depan!

Komentar
Posting Komentar